Nafas Seni dan Api cinta tertuang di THE BLANCO RENAISSANCE MUSEUM, BALI

Oleh : A Ambarini
16-Jan-2007, 15:53:36 WIB – [www.kabarindonesia.com]

3puisi-cinta-yang-didesign-di-sebuah-patung-wanita-dengan-ukuran-kaki-ni-rondji.jpgMemasuki gerbang depan museum Blanco di Ubud, sangat terasa suasana alam bersahabat yang begitu kental menerima, selanjutnya pengunjung akan melihat gerbang kokoh yang penuh wibawa membawa masuk ke museum, gerbang yang terbuat dari batu marmer Italia asli ini merupakan inspirasi dari tanda tangan Antonio Blanco, yang mana gerbang ini telah mendapat penghargaan MURI sebagai replika tanda tangan terbesar dan disinilah gerbang tersebut menyambut kehadiran semua pengunjung yang ingin menikmati karya dan menikmati dunia ala’ Don Antonio Blanco.

Sangat terasa nafas kehidupan seni dari seorang pelukis asal Spanyol yang akhirnya menetap sampai akhir hayatnya di pulau dewata Bali ini terhembus dan menginspirasi seluruh anggota keluarga Blanco sampai saat ini dan juga membuat dunia luar terhenyak akan semua karya maestro yang muncul dari imaginasi universalnya. Antonio blanco bisa disebut sebagai seorang anak yang hilang, selesai ia keliling dunia maka petualangannyapun berakhir di Pulau Bali sampai akhir hayatnya.

Antonio Blanco yang mendapat gelar kehormatan “don” dari raja Spanyol, datang ke Bali di tahun 1952 dan menetap di Bukit Campuan, Ubud. Tanah tempat ia menetap ini merupakan hadiah dari raja Ubud sebagai bentuk rasa terima kasih Raja Ubud terhadap karya-karya Blanco yang begitu imaginatif dan karena Blanco juga mulai memperkenalkan nama Ubud ke dunia luar. Antonio Blanco menikah dengan seorang penari Bali ternama “Ni Ronji” yang memberinya 4 orang anak dan hingga saat ini putra keduanya “Mario Blanco” tanpa direncanakan telah menjadi penerus sang ayah, dengan lukisan-lukisannya yang berbeda aliran dengan sang ayah, dimana Mario lebih mengangkat nilai-nilai filosofi suatu objek lukisan. Dalam lingkungan museum ini juga bisa kita dapatkan hasil karya putranya ini yang sengaja diletakkan dalam ruangan yang berbeda dari museum yang di sebut “Galerry Blanco” sang anak merasa tidak berhak menaruh karyanya di “Museum Blanco” yang memang didedikasikan untuk ayahnya dan merupakan tempat seluruh hasil karya sang ayah yang juga maestro seni lukis tersebut.

Karya-karya sang maestro sebagian besar mengangkat istrinya & wanita sebagai model lukisannya, yang juga merupakan bentuk apresiasinya terhadap keindahan & kecantikan seorang wanita yang diciptakan Yang Maha Kuasa. Bisa dijumpai ratusan hasil karyanya yang menunjukan kemolekan tubuh seorang wanita, dan semua tertuang dalam keindahan seni lukis & kenakalan karya seni sebagai karya besar sang maestro. Bisa dikatakan ia seorang pelukis yang flamboyan dan eksentrik dengan topi ”baret”nya yang selalu lekat di penampilannya. Begitu ekspresifnya ide-ide imaginasi yang muncul dari sang maestro ternyata juga bisa kita nikmati dalam karya puisi-puisi cintanya, flamboyanisme di karya-karyanya dan bentuk-bentuk frame lukisan yang ia design langsung dan disesuaikan dengan tema lukisannya. Dengan melihat keseluruhan karyanya di museum ini maka bisa dikatakan sang maestro menganut aliran “ekspresionis romantic”. Keunikan lain juga ia tak pernah menuliskan tahun atau tanggal kapan karyanya tersebut ia buat karena ia berharap kesemuanya ini tidak berawal dan tidak berakhir sehingga menjadi sesuatu yang abadi.

Kecintaan dan kehormatannya akan sosok wanita mungkin juga disebabkan karena ia berada di dalam kandungan ibunya selama 11 bulan, sehingga ia selalu merasa begitu tinggi arti dan pengorbanan seorang wanita di dunia ini. Begitu uniknya Antonio blanco ini maka ia sengaja mendesign museumnya dengan meletakan bentuk telinga di ujung teratas museumnya, semasa hidupnya ia sempat mengatakan bahwa jika ia tidak dunia ini kelak ia ingin tetap bisa mendengar semua kritikan dan pujian atas karya-karyanya dari telinga ini.

Di pojok ruangan dari museumnya yang merupakan ruangan terpisah, pengunjung yang sudah berumur diatas 17 tahun bisa menikmati “erotic room” disini bukan berarti ruangan yang penuh dengan hal-hal maksiat namun ruangan ini sengaja dipisahkan karena semua karya disini tadinya merupakan koleksi pribadi sang maestro, namun akhirnya dipamerkan juga untuk umum dengan catatan hanya pengunjung diatas 17 tahun saja yang bisa memasuki ruangan ini. Didalam ruangan ini kita bisa menikmati hasil karya maestro yang begitu liar dengan imaginasinya akan wanita dan hubungan wanita dan pria dewasa, sebut saja lukisan yang bertema adam hawa ataupun puisi-puisi cinta yang begitu vulgar. Namun semua ini bisa dilihat jelas sebagai citarasa seni bernilai tinggi dan bukan sebagai seni murahan.

Suasana yang ditampilkan dalam museum diciptakan sedemikian akrab dan seolah-olah membuat bagaimana benda mati bisa hidup dan benda hidup bisa berbicara dan bisa membuat tertawa. Museum berlantai tiga ini memiliki luas keseluruhan 20.000 m², dibuat dengan style eropa namun di semua sudut museum ini kesemuanya didukung oleh filosofi-filosofi Bali yang begitu kental, misalnya saja foto Antonio blanco sengaja diletakan langsung di depan pintu masuk museum, hal ini dipercaya merupakan penolak bala, juga adanya penunjuk 9 arah mata angin yang diimplemetasikan di sudut atas bangunan puncak gedung museum ini, ketiadaan jendela dan suasana lampu yang redup dalam museum ini juga dipercaya akan menghidupkan lukisan yang ada dalam museum ini. Warna-warni dan belok belok dalam museum menunjukan arti suatu kehidupan yang beragam dan tidak bisa ditebak.

Disisi lain museum ini, pengunjung akan langsung tersambung melalui suatu lorong dengan studio tempat Antonio Blanco melukis semasa hidupnya, dan saat ini studio tersebut masih dipergunakan oleh putra keduanya yang menjadi penerus bakatnya yaitu Mario Blanco. Dari studio, pengunjung bisa menikmati bangunan terpisah yang tak kalah menariknya “gallery blanco” yang merupakan ruangan khusus menaruh hasil karya putranya yaitu Mario Blanco.

Hasil karya Mario juga begitu memikat dan menunjukan eksistensinya dalam dunia seni lukis Indonesia saat ini. Bisa terlihat bagaimana keagungan Tuhan yang tidak mau menghilangkan darah seni sang maestro begitu saja, namun semua dianugerahkan merasuk ke putranya, walaupun berbeda aliran seni lukis namun Mario bisa membuktikan bahwa ia bukan merupakan bayangan imaginasi sang ayah, ia juga merupakan seorang perupa yang patut diperhitungkan namanya dan mungkin saja akan lahir seorang maestro baru dari galeri ini dimasa datang, menyusul maestro Antonio Blanco yang sudah tiada. “Dari awal saya tidak tahu saya seperti hari ini, semua saya biarkan mengalir seperti air, papa tidak pernah mengajarkan kepada saya dan papa tidak memiliki murid semasa hidupnya“ itulah yang dikenang Blanco sampai saat ini.

Berkunjung ke museum ini memang berbeda dengan museum seni lukis lain, disini pengunjung dibawa merasakan semua harapan, keindahan seni, impian, nafas seni serta api cinta dari keluarga blanco dan akhirnya bisa memberikan inspirasi kepada semua pengunjungnya mengenai semangat dan kerjakeras seni dan juga bahwa “a thing of beauty is a joy forever” sebagaimana yang tertulis di dinding gallery blanco.

3 Responses to “Nafas Seni dan Api cinta tertuang di THE BLANCO RENAISSANCE MUSEUM, BALI”


  1. 1 made natya January 5, 2008 at 3:18 am

    halo saya made saya orang workshop saya anaknya bu ratnadi klo bleh lukisan nya hrus diliatin ok salam buat felicia ya

  2. 2 gunk_de October 20, 2008 at 5:20 am

    halo.. om mario, saya gunk de, dukuh batubulan. om, klo da denah museumnya bs dicantumin ga.. krn saya terinspirasi dari Museum Blanco untuk data tugas kuliah. makasi byk om..

  3. 3 melati May 8, 2009 at 7:45 am

    halo om mario, saya melati , dari kecil saya ngefans banget sama om mario tapi selama ini setiap ke musium nggak pernah ketemu pingin bgt foto sama om mario dan minta tanda tangan…


Leave a Reply




Blog Stats

  • 25,899 hits

a

 

January 2007
S M T W T F S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031